Being Productive Moslem : Ketika Amal Shalih Bertemu Dengan Pencapaian Diri

Oleh: Jordan Brahmansyah

Pendahuluan

Dewasa ini, Penjualan buku dan karya yang mengangkat tema mengenai produktifitas mulai semakin banyak diminati oleh masyarakat. Sebut saja “7 habits of highly effect people” karya Steven Covey, “The Power of Now” karangan Leo Babauta, serta buku serial milik John C. Maxwell. Banyaknya penjualan tersebut memperlihatkan bahwa tingginya permintaan dari masyarakat. Tentunya, orang-orang yang tertarik membaca hal tersebut adalah orang yang memiliki masalah mengenai diri mereka yang tidak produktif atau bahkan membutuhkan panduan serta motivasi untuk bisa memperoleh kualitas hidup yang lebih baik.

Masalah produktifitas memang cukup krusial, karena produktifitas seseorang dapat mempengaruhi reputasi, karir, serta time management seseorang, dalam hal ini alokasi waktu untuk hal-hal lain seperti untuk bersosialisasi, refreshing, pencapaian diri, hal-hal penting lainnya. Alhasil, apabila produktifitas seseorang terganggu akan berujung pada stress dan menurunnya kualitas hidup. Maka dari itu, tidak heran apabila buku-buku tersebut seringkali dielu-elukan bagai “kitab suci” bagi umat manusia.

Berbicara mengenai kitab suci, umat manusia sendiri pada dasarnya memiliki satu kitab suci, yaitu Al-Quran, sebagai panduan utama manusia dalam menjalani hidup. Dan secara mengejutkan bahwa, sebelum “para nabi” tersebut mengeluarkan buku-buku produktifitas mereka, Al-Quran dan hadis sudah memberikan petunjuk mengenai topik produktifitas ini. Oleh karena itu, karya ini akan mencoba mengulas mengenai topik poduktifitas di dalam Al-Quran dan hadis sebagai referensi utama umat manusia.

Juz 1 : Demi Waktu

Kenapa kita butuh untuk produktif dan aktif dalam bekerja? Mari kita ingat sejenak bahwa kita memiliki waktu yang terbatas, tentu dari keterbatasan tersebut terdapat begitu banyak pilihan yang bisa kita alokasikan. Lalu, pilihan apa yang harus kita pilih dalam mengalokasikan waktu kita? Hal ini tergantung dari bagaimana tujuan hidup kita. Tapi tentu hidup kita tidak melulu soal tujuan hidup kita, ada kewajiban serta tuntutan lain yang membuat kita menjadi terpecah.

Maka dari itulah konsep diperlukan, yaitu bagaimana cara kita dapat menyelesaikan secepat mungkin urusan-urusan lain agar kita bisa mendedikasikan hidup untuk tujuan utama hidup kita. Kesalahan dalam mengalokasikan waktu memiliki akibat yang fatal, mulai dari manajemen waktu yang menjadi berantakan, stress, hingga arah hidup kita yang menjadi bias terhadap tujuan utama hidup kita. Stephens & Joubert (2001) menyatakan bahwa di Negara Kanada, hilangnya produktifitas seseorang  menyebabkan negara tersebut dapat merugi hingga Can$ 8,1 milliar. Oleh karena itu, istilah “time is money” memang benar adanya, sehingga waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin dengan menjadi produktif. Hal ini telah dinyatakan dalam Al-Quran surat Al-Asr ayat 1-3

”Demi waktu. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al ‘Ashr)

Dalam surat tersebut, Allah SWT telah berfirman mengenai bagaimana pentingnya waktu. Serta manusia akan terhindar dari kondisi merugi apabila mereka menghiasi dirinya dengan 4 kriteria, yaitu beriman, beramal shalih, saling menasehati agar menegakkan kebenaran dan saling menasihati agar bersabar. Hal ini jugalah yang menjadi pembeda antara konsep produktifitas dalam islam dan non-islam. Yaitu dari sisi apa yang ingin dicapai ketika menjadi produktif.

Produktifitas dalam sisi non-islam tidak menyatakan secara jelas kehidupan setelah kematian, sehingga hasil yang ingin dicapai hanya berfokus pada dunia, entah itu uang, karir ataupun popularitas, yang lebih cenderung self-centered. Hal ini berbeda dengan konsep produktifitas dalam islam yang dimana tujuannya tidak sekedar pencapaian di dunia, namun juga terhubung dengan judgement day pada saat kehidupan di akhirat. Lebih dari itu, output yang dihasilkan dari produktifitas dalam islam juga mempertimbangkan masalah kemashlahatan umat, bersedekah kepada fakir miskin, membesarkan hati orang yang terkena musibah, serta berdakwah terhitung sebagai kegiatan produktif dalam islam. Oleh karena itu, seorang muslim sangat dianjurkan untuk bisa mempergunakan waktunya sebaik mungkin. karena semakin produktif seorang muslim, maka akan semakin banyak perbuatan amal baik yang dapat dilakukan.

Juz 2 : Meditation, Spiritual Energy & 5 times shalat

Banyak dari para personal development trainer merekomendasikan untuk melakukan meditasi dalam meningkatkan produktifitas seseorang. Sebuah penelitian dari University of Washington menyatakan bahwa meditasi dapat membantu seseorang untuk bisa konsentrasi lebih baik, daya ingat akan hal-hal detil yang lebih kuat, tetap bertenaga serta mengurangi mood negatif  (Levy, Wobbrock, Kazniak, & Ostergren)

Meditasi tidak hanya soal duduk bersila sambil memejamkan mata saja.Konsep dari meditasi sendiri mengajak kita untuk menjadi mindful, yaitu situasi dimana kita membawa diri dan pikiran kita ke dalam keadaan saat ini. Karena seringkali pikiran kita terjebak dalam masa depan ataupun masa lalu. Pikiran kita difokuskan untuk mengaktifkan seluruh panca indera kita, yaitu nafas kita, suara-suara di sekeliling kita, ataupun hawa panas atau dingin yang kita rasakan. Bagaimana hal tersebut bisa membuat kita menjadi produktif? Hal ini dikarenakan otak kita cenderung melakukan multi-tasking, yaitu memikirkan banyak hal di dalam suatu waktu. Meditasi diibaratkan seperti task manager pada komputer yang berfungsi menon-aktifkan seluruh aplikasi (dalam hal ini pikiran) yang tidak diperlukan, sehingga kita bisa memulai fokus terhadap apa yang menjadi prioritas kita.

Bagi muslim sendiri pada dasarnya tidak mengenal ritual meditasi khusus apabila seorang muslim dapat menjalankan shalat dan zikir dengan khusyuk. Shalat merupakan merupakan bentuk formal dari doa yang dilakukan umat manusia yang diajarkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.

“Dan jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu.Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,(yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya” (QS.al Baqarah(2:45-46)

Shalat merupakan bentuk meditasi tertinggi. Tidak seperti meditasi yang lumrah kita kenal, shalat yang khusyuk membawa kita tidak hanya pada kondisi mindful, namun juga merasakan kebesaran Allah SWT yang senantiasa memperhatikan kita.

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” – Ar-Ra’d (28)

Shalat sendiri merupakan bentuk kita untuk terus mengingat Allah SWT. Dengan demikian, shalat lebih dari sekedar meditasi pada umumnya. Karena shalat yang khusyuk tidak hanya memberikan rasa mindful, namun juga kedamaian. Yaitu rasa aman bahwa Allah SWT akan senantiasa melihat kita dan melindungi kita. Tidak heran apabila ketika seorang muslim secara konsisten terus menjaga shalat lima waktu, apalagi ditambah dengan shalat Sunnah, segala kegiatan yang dijalankan terasa lancar. Hal ini terjadi karena terdapat energi spiritual yang membantu kita untuk menjalani kegiatan sehari-hari, yaitu rasa tenang, fokus, dan semangat yang kita tidak terduga yang dimana dapat mendorong kita untuk bisa jauh lebih produktif daripada biasanya.

Juz 3 : The Mystery of Morning Time

Rockwool Foundation Research Unit (2011) dalam penelitiannya mencoba untuk membandingkan output yang dihasilkan dari 2 tipikal kerja, yaitu early bird (orang yang bangun lebih awal dan bekerja di pagi hari) dengan night owl (orang yang bekerja hingga begadang larut malam). Berdasarkan penelitian tersebut ditemukan bahwa para early bird dapat menghasilkan pendapatan yang lebih besar secara signifikan dibandingkan dengan night owl, yaitu rata-rata early riser mendapatkan 7% lebih tinggi dibandingkan night owl. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa perbedaan tersebut terjadi karena early bird memiliki kinerja yang lebih efektif dibandingkan night owl akibat jam biologis mereka yang lebih teratur. Steve Pavlina juga menyatakan bahwa pagi hari merupakan waktu dimana energi kreatif berada pada puncaknya sehingga pekerjaan akan menjadi optimal apabila dilakukan pada pagi hari. Leo Babauta sendiri pernah menyatakan bahwa dengan menjadi early riser dapat memacu produktifitas kita pada hari tersebut dikarenakan mental kita yang siap akibat start kita yang lebih awal.

Pembahasan mengenai dampak waktu pagi hari yang dahsyat sendiri dalam islam sudah dijelaskan dalam Quran Surah Al-Muzammil (1-9) sebagai berikut :

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ (١) قُمِ اللَّيْلَ إِلا قَلِيلا (٢) نِصْفَهُ أَوِ انْقُصْ مِنْهُ قَلِيلا (٣) أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلا (٤) إِنَّا سَنُلْقِي عَلَيْكَ قَوْلا ثَقِيلا (٥) إِنَّ نَاشِئَةَ اللَّيْلِ هِيَ أَشَدُّ وَطْئًا وَأَقْوَمُ قِيلا (٦) إِنَّ لَكَ فِي اَلنَّهَارِ سَبْحًا طَوِيلا (٧) وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ وَتَبَتَّلْ إِلَيْهِ تَبْتِيلا (٨) رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ فَاتَّخِذْهُ وَكِيلا (٩)

“Wahai orang yang berselimut! bangunlah (untuk shalat) pada malam hari, kecuali sebagian kecil. (yaitu) separuhnya atau kurang sedikit dari itu. Atau lebih dari (seperdua) itu, dan bacalah Al-Quran itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya kami akan menurunkan perkataan yang berat kepadamu. Sungguh, bangun malam itu lebih kuat (mengisi jiwa), dan (bacaan di waktu itu) lebih berkesan. Sesunggguhnya pada siang hari engkau sangat sibuk dengan urusan-urusan yang panjang. Dan sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan sepenuh hati. (Dialah) Tuhan timur dan barat, tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Dia, maka jadikanlah Dia sebagai Pelindung” QS. Al-Muzammil (1-9)

Firman Allah SWT tersebut berisi anjuran bagi manusia untuk bangun di pagi hari lebih awal untuk melaksanakan shalat Qiyamul lail serta membaca Al-Quran. Hal ini disebabkan karena memang pada saat pagi hari, yang dimana dalam ayat tersebut dikatakan kurang dari separuh malam (sekitar pukul 2-4 pagi), merupakan saat dimana otak memiliki fokus yang paling tinggi. Sehingga ibadah yang dilakukan pada saat tersebut dapat dilakukan lebih khusyuk daripada biasanya. Kedahsyatan waktu pagi hari ini yang seringkali tidak disadari oleh umat muslim bahwa pada saat itulah manusia memiliki mental yang lebih siap serta daya konsentrasi yang tinggi sehingga dapat digunakan untuk mengerjakan tugas-tugas dengan hasil yang lebih optimal dibandingkan dengan begadang.

Kesimpulan

Konsep produktifitas yang ada dalam Al-Quran merupakan intisari dari perkembangan konsep produktifitas yang dikembangkan saat ini. Namun, yang membedakan antara kedua konsep produktifitas tersebut terletak pada sisi niat (yaitu untuk pencapaian dunia dan akhirat) serta output-nya, yaitu untuk kemashlahatan umat manusia. Mengingat para personal development trainer yang mendapatkan konsep produktifitas berdasarkan riset-riset yang berulang kali mereka lakukan. Kita sebagai umat muslim yang telah memperoleh panduan mengenai konsep produktifitas dari Al-Quran perlu mengembangkannya lebih jauh, mengingat konsep tersebut telah menjadi kebutuhan bagi umat manusia berhadapan dengan semakin tingginya peradaban. Konsep mengenai produktifitas perlu dikembalikan ke jalan yang lurus, sehingga produktifitas kita dapat sejalan dengan amal shalih kita yang terus meningkat.

References

Faris, M. (n.d.). Living The Advice of Surat Al-Asr – Part 1. productivemuslim.com. Retrieved from http://productivemuslim.com/living-the-advice-of-surat-al-asr-part-1/

Islam21C. (2012). The Muslim View of Productivity. Retrieved from http://www.islam21c.com/islamic-thought/3218-the-muslim-view-of-productivity/

Levy, D. M., Wobbrock, J. O., Kazniak, A. W., & Ostergren, M. (n.d.). The Effects of Mindfulness Meditation Training on Multitasking in a High-Stress Information Environment. Washington DC: University of Washington. Retrieved from http://faculty.washington.edu/wobbrock/pubs/gi-12.02.pdf

Leave a Comment