Memaknai Kewajiban Puasa

Oleh: Ibrohim Abdul Halim (Supervisor Pesantren Mahasiswa YKM FEUI) FEB UI 2013

Bulan Ramadhan adalah bulan mulia yang diwajibkan orang-orang beriman untuk berpuasa di dalamnya. Karena Ramadhan adalah satu-satunya bulan yang diwajibkan berpuasa selama satu bulan penuh, maka bulan ini dikenal juga sebagai syahru ash-shiyam (bulan puasa). Di bulan puasa ini, tentu amalan utamanya adalah berpuasa. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa puasa sejatinya adalah manifestasi dari berbagai amalan lainnya.

Hal ini sebagaimana Allah sebutkan dalam surat Al-Ahzab ayat 35:

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut nama Allah, Allah telah menyediakan bagi mereka ampunan dan pahala yang besar”

Pada ayat tersebut, puasa disebutkan setelah Allah menyebutkan tujuh indikator lainnya dari orang yang akan Allah berikan ampun dan pahala. Penyebutan puasa sebagai indikator/tingkatan kedelapan mengindikasikan bahwa orang yang berpuasa adalah orang yang pada dirinya seharusnya terdapat tujuh ciri, yaitu muslim, mukmin, taat, benar, sabar, khusyuk, dan bersedekah. Ini menunjukkan bahwa kewajiban puasa tidaklah dibebankan kepada sembarang orang, dan kewajiban puasa bukanlah sebuah kewajiban yang bisa disepelakan begitu saja.

Orang yang berpuasa haruslah seorang muslim, yakni orang yang meyakini bahwa hanyalah Allah tuhannya dan Muhammad adalah Rasulnya. Ia memahami betul makna dua kalimat syahadat dan mendalami setiap kewajiban turunan dari kalimat itu. Orang yang berpuasa adalah orang yang yakin dengan syahadatnya dan menjadikan islam sebagai jalan hidupnya.

Ia juga orang yang beriman, yakni orang yang meyakini imannya di dalam hatinya, menyuarakan imannya dengan lisannya, dan membuktikan imannya dengan amal perbuatannya. Ia adalah orang yang bertauhid paripurna, tidak memisahkan antara satu dengan lainnya. Imannya kepada hari akhir menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan dalam setiap hembus nafasnya.

Ia juga adalah orang yang taat dan menjalankan seluruh perintah agama. Ketika suatu urusan agama datang kepadanya, maka ia mengatakan “kami mendengar dan kami taat”. Ketaatannya menyebabkan imannya terus bertambah karena ia hafal hadits Rasulullah saw bahwa iman itu naik dan turun, naik karena ketaatan dan turun karena kemaksiatan.

Seorang yang berpuasa juga adalah seorang yang benar dan membenarkan kebenaran. Ia lantang bersuara jika melihat kefasikan. Tidak keluar dari lisan dan perbuatannya kecuali sebagaimana yang telah ditentukan oleh Allah dan rasulnya.

Ia juga merupakan seorang yang sabar. Ketika ditimpa musibah, ia bersabar. Ketika ada godaan kemaksiatan, ia bersabar. Dan ketika orang-orang mengolok-olok atau bahkan menjauhinya karena prinsip dan dakwah islam yang ia bela, ia juga bersabar. Maka kesabaran itu baik baginya.

Orang ini juga adalah orang yang khusyuk. Ia senantiasa larut dalam ibadah kepada Allah swt. Di sepertiga malam terakhir ia bangun dan bermunajat pada Rabb semesta alam. Ia hadirkan Tuhannya di setiap sholat dan aktifitasnya.

Dan ia juga merupakan seorang yang bersedekah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit. Tangannya ringan dalam berbagi. Ia sadar betul bahwa ia harus merengkuh dunia, namun tidak meletakkannya di hatinya, melainkan di tangannya. Kepada para fakir miskin, ia senantiasa memberi.

Maka orang seperti ini lah yang kemudian menjalankan ibadah puasa dan masuk kategori shoimin/shoimat. Puasa menjadi pelengkap bagi seluruh kebaikan yang ia lakukan. Ia tidak berpuasa hanya sekedar puasa, tapi puasanya dipenuhi keislaman, dipenuhi keimanan, dan dipenuhi amalan-amalan sunnah. Ia menikmati puasanya karena ia adalah seorang yang khusyuk. Ia ratapi kelaparannya dengan memperbanyak bersedekah, karena ia tahu bagaimana tidak enaknya merasa kelaparan.

Puasa dengan demikian tidak sekedar menahan lapar dan haus saja. Ada esensi besar di balik itu. Pertanyaannya, sudahkah kita menjalani puasa sebagaimana yang Allah terangkan dalam surat Al-Ahzab:35 tadi? Jika belum, mari sama-sama memperbaiki diri dan memaknai lebih dalam puasa kita. Semoga Allah swt menerima puasa kita dan semua amal ibadah yang kita lakukan di dalamnya.

Leave a Comment